NEWS

Ini Penyebab Pemred KBR Diganjar Penghargaan Oktovianus Pogau

05 Februari 2018
ditulis oleh Rony Sitanggang

KBR, Jakarta - Pemimpin redaksi KBR, Citra Dyah Prastuti mendapat penghargaan keberanian dalam jurnalisme. Penghargaan Oktovianus Pogau untuk keberanian dalam jurnalisme diberikan oleh organisasi yang bergiat dalam pengembangan jurnalisme Yayasan Pantau. 

Kata Andreas Harsono dari Yayasan Pantau, KBR sejak berdiri dikenal dengan liputan demokrasi, toleransi dan hak asasi manusia. kata dia, Citra mempertahankan tradisi ini.

Citra Prastuti memulai karir sebagai reporter di KBR sejak 2002. Dia ikut meliput di  Aceh ketika operasi militer dilancarkan dari Jakarta pada 2003. Citra terlibat liputan atau menugaskan peliputan banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Dari mulai kasus 66, pembunuhan Munir Thalib, diskriminasi terhadap Ahmadiyah sampai penutupan gereja-gereja.

Pada 2006, beberapa saat sesudah berita kelaparan di Yahukimo, Papua, KBR membuat program ‘Kabar Tanah Papua’ dengan harapan bila ada jurnalisme independen, kelaparan dan kematian tersebut bisa dicegah. Filep Karma, seorang tahanan politk Papua, memuji program tersebut. Ia memberi banyak manfaat bagi suara warga Papua. Sayangnya, program in berhenti pada 2012. 

Pada 2014, Citra diangkat direktur produksi PT Media Lintas Inti Nusantara merangkap pemimpin redaksi KBR. Dia mempertahankan kebijakan redaksi KBR. Pada 2016, ketika kampanye homophobia muncul di Indonesia, KBR juga terus-menerus menyiarkan pandangan yang masuk akal soal seksualitas. 

Juri penghargaan ini terdiri dari Alexander Mering (Gerakan Jurnalisme Kampung di Kalimantan Barat, Pontianak), Coen Husain Pontoh (Indo Progress, New York), Made Ali (Jikalahari, Pekanbaru), Yuliana Lantipo (Jubi, Jayapura) dan Andreas Harsono. Mereka menilai Citra Dyah Prastuti memiliki keberanian dalam menjaga editorial KBR. 

Elisa Sekenyap, sahabat Oktovianus Pogau dari Suara Papua, mengatakan, “Citra mewakili cita-cita sahabat saya Oktovianus, yang telah pergi tapi keberanian dan keinginannya untuk menyuguhkan fakta di Papua Barat, salah satu daerah paling direndahkan di Indonesia, masih diteruskan. Ia bukan saja diteruskan di kalangan wartawan Papua namun juga produser Citra Dyah Prastuti di Jakarta.” 

Yayasan Pantau adalah organisasi yang bekerja di bidang riset dan pelatihan jurnalisme sejak 1999. Penghargaan Oktovianus Pogau Yayasan Pantau tak memberikan  uang maupun seremonial. Penghargaan diberikan guna merangsang diskusi soal keberanian dalam jurnalisme. Yayasan  yang bekerja di bidang riset dan pelatihan jurnalisme sejak 1999  ingin penghargaan ini berumur selama mungkin tanpa dibebani pendanaan.


Oktovianus Pogau 

Penghargaan diberi nama Oktovianus Pogau yang  lahir di Sugapa, pada 5 Agustus 1992. Dia  meninggal di usia 23 tahun, pada 31 Januari 2016 di Jayapura. Pada Oktober 2011,  untuk Jakarta Globe dia melaporkan kekerasan terhadap ratusan orang  ketika  berlangsung Kongres Papua III di Jayapura. Pogau wartawan pertama yang melaporkan penembakan polisi dan militer Indonesia ketika membubarkan acara yang berlangsung damai tersebut. Tiga orang meninggal  dan lima   dipenjara dengan vonis makar. 

Pogau seorang penulis sekaligus aktivis yang menggunakan kata-kata untuk berdiskusi dan mengasah gagasan-gagasan politiknya.   Dia dianiaya polisi ketika meliput demonstrasi KNPB di Manokwari pada Oktober 2012. Organisasi wartawan tempatnya bernaung menolak melakukan advokasi. Alasannya, Pogau tak sedang melakukan liputan namun melakukan aktivitas politik.

Pogau juga sering menulis pembatasan wartawan internasional meliput di Papua Barat. Dia juga memprotes pembatasan pada wartawan etnik Papua maupun digunakannya pekerjaan wartawan buat kegiatan mata-mata. Ia secara tak langsung membuat Presiden Joko Widodo pada Mei 2015 meminta birokrasi Indonesia menghentikan pembatasan wartawan asing meliput Papua Barat. Sayangnya, perintah Jokowi belum dipenuhi.

Coen Husain Pontoh, salah seorang juri Yayasan Pantau yang mengusulkan pemakaian nama Pogau. Pontoh mengatakan, “Dia berasal dari etnik minoritas, yang lebih penting dia berani mempertaruhkan nyawanya untuk melaporkan peristiwa-peristiwa yang tidak berani dilaporkan oleh wartawan lain menyangkut kekerasan militer dan polisi di Papua serta kondisi Papua sesungguhnya.”

Keberanian dalam jurnalisme serta keberpihakan pada orang yang dilanggar hak mereka membuat Yayasan Pantau menilai Oktovianus Pogau sebagai model bagi wartawan Indonesia yang berani  meliput pelanggaran hak asasi manusia dalam berbagai aspek.